(Catatan dari Blog yang lalu)
Malam Lebaran…
“Mungkin kita lebih bahagia di asrama ya Cie, selalu ada hal untuk ditertawakan, selalu ada suster yang siap bawa kita ke Panti Rapih kalo sakit. Gampang kalo pinjem PR, bisa pinjem-pinjem baju dan sepatu. Kalo ULTAH pasti diucapin selamat, ada bapak yang jagain kalo ada orang gila, makan terjamin. Asrama kita dulu menyenangkan ya? Aku gak pernah nyesel loh tinggal di sana… “ (pesan singkat dari seorang teman)
Sejak sore tadi aku menemani seorang teman dekatku yang sedang sakit. Wajah pucat serta demam tingginya ternyata cukup membuatku khawatir. Seperti khawatir seorang ibu ketika anaknya sakit. Tanpa perasaan terpaksa, aku pun mulai merawatnya, mengusap-usap punggungnya dengan minyak kayu putih, mengompres dahinya dengan handuk kecil dan berharap panas di tubuhnya berangsur-angsur turun, lalu tak lupa kupastikan juga bahwa ada makanan yang masuk ke dalam perutnya, maklum orang sakit memang rewel untuk urusan makan.
Meski hubungan kami adalah penjenguk dan yang dijenguk, namun tidak serta merta kami harus menjaga ketenangan suasana layaknya di Rumah Sakit. Kami! Aku dan temanku rupanya tengah asyik dengan obrolan ringan, membahas apapun yang ingin kami bicarakan, entah penting atau tidak, yang penting senang, sesekali kami harus merasakan tekanan kencang di perut karena tawa yang tak habis-habisnya.
Dan sampai pada suatu titik, suara tawa itu berangsur-angsur hilang…
Aku diam. Temanku pun diam. Tiba-tiba kami diam bersamaan dengan tatapan yang menerawang jauh, dan menutup bibir kami yang tadinya terbuka lebar karena gelak tawa. Tak ada lagi hasrat untuk bersenda gurau, baik aku maupun temanku. Nggak nafsu lagi!
Tiba-tiba saja, aku merasa begitu kesepian. Seperti embun yang bergetar melawan keterasingan di luar sana. Seperti sepi yang dirasakan ayahku di hari tuanya. Seperti narapidana yang tak lagi punya mimpi karena palu telah diketuk dan vonis hukuman bui seumur hidup sudah diputuskan. Seperti perasaan seorang anak dalam rahim yang tak diharapkan kelahirannya. Dan aku tetap pada kesepianku…
Entah roh pengecut mana yang menghampiriku, hingga aku tak lagi berani berjalan sendirian seperti ketika aku kecil dulu. Bocah lima tahun itu tak pernah mengeluh, ketika ia harus menunggu di sekolahan sampai hari hampir gelap, karena sang ayah baru sempat menjemputnya setelah pulang kantor. Bocah lima tahun itu tak pernah menangis, ketika orang tua satu-satunya harus pergi ke Jakarta selama satu minggu dan ia dititipkan pada tetangga. Bocah lima tahun itu tak pernah mengangis, dan bocah lima tahun itu adalah, aku!
Sekarang di rumah sendiri, tidur sendiri, makan malam sendiri, dan nonton TV sendiri aku tak ingin, aku takut pada sepi. Sepi yang telah mengurungku dalam kandang selama puluhan tahun, sepi yang selalu merampas tawaku, sepi yang sudah menjadi bagian hidupku. Karenanya aku ingin, aku bisa sendiri lagi… tanpa perasaan rindu yang begitu menyiksaku jika dirinya tak datang, tanpa perasaan begitu cinta yang akhirnya membuatku menangis, tanpa kekhawatiran jika dirinya sakit dan aku tak bisa disampingnya, tanpa rasa cemburu jika cinta ini harus dibagi-bagi. Tanpanya…dan aku berpulang pada sepi itu.
Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kuhapus beningnya air yang semakin ke bawah membasahi pipiku. Kulihat temanku tengah terlelap dengan handuk kecil basah di keningnya, kubasahi lagi handuk itu-kuperas-dan kukompreskan lagi dikeningnya dan kutarikkan selimut tebal hingga sebatas dadanya. Hatiku berbisik “cepat sembuh ya”.
Lalu aku mengendap-endap menuju pintu keluar, sebisa mungkin kupastikan ia tetap terlelap agar ia tak tahu bahwa aku meninggalkannya. Agar ia tak merasa kesepian sepertiku. Pintu kamarnya pun sudah tertutup. Ia pasti mengira, aku sedang menemaninya…
Motorku melaju pelan. Sendiri kulewati pekatnya malam, kuucapkan selamat malam pada embun-embun di sela rerumputan sawah, kunikmati setiap kilometernya roda motorku berputar di jalan melingkar panjang. Kugigit bibirku agar tak bergetar. Kunikmati dingin yang semakin memperlengkap sepiku. Sementara obat sepiku berlari menyelingkuhi mimpi…
Ponselku bergetar, kubaca sebuah pesan singkat, setelahnya aku tertidur pulas.
Jogja, 12 Oktober 2007