01
Jun
11

White Rose…

White rose itu masih segar dalam botol bekas air mineral, di pinggir meja TV di dalam kamarku.

Terakhir yang kuingat, masih kuganti airnya dan kupotong ujung tangkainya agar tetap segar, sebelum kabar itu kuterima. Kabar yang menyekat kerongkongan. Kabar yang tidak diduga-duga. Seketika, hatiku seperti… (tak bisa kujelaskan dengan kata-kata).

White rose itu kini masih berdiri anggun meski jauh dari tanah, tempat ia tumbuh. Warnanya yang putih bersih mengingatkanku pada malam itu, malam di pinggir shelter busway tempat kami biasa bertemu sepulang kerja, melepas penat dan berbagi ngalor ngidul. Ya, sederhana dan lucu. Dengan nakal, ia mengambil white rose itu dari vas bunga di ruang kerjanya. Lalu diberikannya bunga putih itu kepadaku. Aku menyimpulkan senyum dalam, sampai ke kedalaman hatiku. Tak kubiarkan ia tau, betapa hatiku pelan-pelan mekar seperti white rose yang saat ini masih teronggok di salah satu sudut kamarku.

White rose…

Pagi ini, meliriknya pun aku tak berani, apalagi mengganti airnya atau memotong ujung batangnya.

Jakarta, 1 Juni 2011

06
Mar
11

Tentang buku ‘Mati Ketawa Cara Rusia’

Judul buku – Mati Ketawa Cara Rusia

Penulis – Z. Dolgopolova

Penerbit – Grafitipers

Buku ‘Mati Ketawa Cara Rusia’ membuktikan bahwa rasa humor yang tinggi mampu bertahan di tengah masyarakat yang tertekan, bahwa masyarakat Rusia yang pada saat itu dikenal sebagai orang-orang yang kaku dan atheis ternyata punya sense of humor yang tinggi di tengah cengkraman represif rezim komunis.

Buku yang diterbitkan pada tahun 1986 ini banyak menyindir dan menertawakan masa-masa represif Rusia dibawah rezim Joseph Stalin dan Nikita Khruschev (Sekjen Partai Komunis Uni Soviet), yang secara estafet memegang tongkat kekuasaan Uni Soviet (Stalin 1922-1953. Khruschev 1953-1964).

Rezim Stalin melancarkan kebijakan ekonomi baru yang mengubah Uni Soviet menjadi negara industri maju. Namun, kebijakan agraria gagal. Akibatnya, sekitar enam juta orang mati kelaparan.

Karena kekejaman dan kebrutalannya, Stalin pernah dijuluki sebagai ‘sang penjagal gila’. Selama hampir 30 tahun menjadi penguasa Uni Soviet, 10-20 juta orang Rusia tewas atau dihukum mati atas perintahnya.

Pada akhir 1930-an Stalin memulai pembersihan besar-besaran thdp mereka yang disebut sebagai musuh revolusi. Jutaan orang dikirim ke kamp pengasingan (Gulag) dan jutaan, termasuk wanita dan anak-anak, dipekerjakan sebagai buruh kerja paksa di pabrik. Setidaknya delapan juta orang tewas akibat kerja paksa dan kelaparan di kamp-kamp tersebut.

Stalin juga membangun kultus individu yang membuat mayoritas rakyat Rusia menganggapnya pahlawan. Kultus individu terhadap Stalin ditiadakan oleh Perdana Menteri Nikita Khrushchev. Atas perintah Khrushchev, jenazah Stalin yang dibalsem dan ditempatkan di samping mausoleum Lenin dikeluarkan, dikremasi dan dimakamkan di deretan pahlawan Rusia.

Khruschev banyak mengkritik gaya Stalin dalam memimpin Uni Soviet. Kebijakan-kebijakan penting selama pemerintahan Khrushchev di Soviet diantaranya adalah mendirikan Pakta Warsawa, sebagai tandingan dari NATO, mendukung Mesir selama Krisis Terusan Suez tahun 1956, andil dalam perpecahan Tiongkok-Soviet akibat Krushchev bernegosiasi dengan negara-negara barat dan menolak menolong program angkasa China, memulai program angkasa Soviet yang berhasil mengirim satelit Sputnik dan kosmonot Yuri Gagarin ke luar angkasa, menyetujui pembangunan Tembok Berlin di tahun 1961 dan menempatkan rudal-rudal nuklir di Kuba sehingga memicu krisis rudal Kuba di tahun 1962.

Selain itu, buku ini juga ‘menyentil’ isu-isu politik seperti korupsi, Yahudi, seks bebas, kemiskinan, kaum agamis dan feminis, rasis dan lain sebagainya. Setelah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Batara Sakti dan diterbitkan oleh PT Pustaka Grafitipers Jakarta pada Maret 1986, buku ini termasuk best seller di tanah air.

Menjadi penting untuk dibaca adalah karena buku ini bisa dibilang sebagai pionir kumpulan humor yang meledak di indonesia. Bagaimana melihat sebuah ‘tekanan’ dengan cara yang berbeda, yang lebih santai. Bagaimana melawan kekuasaan melalui kreativitas guyonan.

Buku Mati Ketawa Cara Rusia ini menjadi titik balik munculnya artikel dan buku-buku sejenis. Sebut saja Mati Ketawa Ala Soeharto, Mati ketawa cara Tukul Arwana, Mati Ketawa Gaya Indonesia, dll.

*Dari berbagai sumber

29
Des
10

Menelpon ibu

Gambar: Google.comSudah sebulan ini ibuku kembali menjanda untuk kedua kalinya. Awal November 2010 yang lalu, Om Dino, ayah tiriku, dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya. Sejak peristiwa itu, aku rajin menelpon ibu.

Tidak ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan, tidak pula meminta uang bulanan. Setiap kali menelpon ibu, aku hanya ingin mengetahui keadaannya, apakah ia baik-baik saja, apa saja aktivitasnya seharian, apakah ia sudah makan siang, dengan lauk apa ibu makan. Ya! itu kulakukan setiap hari

Sepanjang pengalaman menelpon ibu, menurutku ibu kurang asyik. Ibu selalu terburu-buru jika kuhubungi, ia tak ingin berbincang terlalu lama. Bukan karena ibu pendiam, tapi ibu selalu khawatir pulsaku habis. Karenanya, aku tak pernah berlama-lama menelepon ibu.

Sejak Om Dino pergi, ibu terlihat tidak setangguh dulu. Dan aku terlalu khawatir untuk itu... Mungkinkah ibu kesepian?

Jika mau berpositive thinking, usia ibu memang sudah tua. Masa senja ibu itu ditandai oleh beberapa gigi ibu yang ompong, pipinya yang kempot, kulitnya yang kendur dan rambutnya yang memutih. Seingatku juga, jalan ibu sudah mulai lunglai, penglihatannya kabur.

Karena alasan itulah aku selalu menelepon ibu setiap hari. Aku ingin ibu baik-baik saja. Aku tidak ingin ibu kesepian.

*Teruntuk Mamih, ibuku tersayang...

26
Jun
10

Pagi Kekasih

Pagi kekasih..
Pagi ini, aku rindu mengecupmu di pagi hari, seperti di pagi-pagi biasanya. Ingin rasanya kulakukan, ya! mendaratkan ciuman itu dikeningmu–sambil mengusap lembut rambutmu–yang seingatku tak pernah berketombe, tapi aku takut kau terbangun.

Ah, kalau begitu aku buatkan secangkir kopi hitam panas dulu saja ya, pastinya untukmu! Tenang saja, aku pasti menyeduhnya dengan air mendidih agar kopinya matang benar oleh panas seratus derajat celcius. Semoga ketika panasnya kopi pelan-pelan berubah menjadi suam-suam kuku, kau sudah bangun, sehingga kau tak perlu menunggu lama untuk meminum kopi itu.

Seraya menegak kopi itu, kau bercerita tentang hari-harimu kemarin, yang sering kau lalui tanpa aku. Aku selalu ingin mengulang saat-saat kau bercerita. Percayalah kekasih, aku akan duduk manis di depanmu. Menunggu cerita itu hingga bersambung untuk pertemuan-pertemuan mendatang, dimana ada secangkir kopi hitam panas.
Aku menunggumu terbangun untuk mengecupmu dan mengusap lembut rambutmu yang seingatku tak pernah berketombe.

Dan secangkir kopi hitam panas itu juga perlahan-lahan merubah dirinya menjadi hangat, untuk kau minum…

Selamat pagi, kekasih…

(Foto: Google.com)

29
Mei
10

Puisi BJ Habibie untuk almarhum istrinya

Aku mengutip puisi si jenius BJ Habibie untuk almarhum istrinya. Aku suka membacanya. Ada kekuatan cinta di dalamnya. Ketika cinta tak lagi menyoal romantisme, cinta adalah bagian dari kehidupan…

Begini ia menulis :


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

14
Mei
10

Terima kasih karena kalian Cina!

(Gambar: Kang Ilham, Detik.com)

Hei Cin.. Cinoo!

Begitulah ‘panggilan sayang’ teman-teman kepada saya. Wajar saja, saya memang Cina, haha…

Sedikit flash back, waktu saya kecil, saya tidak bangga menjadi seorang Cina, sedih malah. Mengapa? begini ceritanya, setiap kali turun dari angkot, sepulang sekolah, saya harus berjalan kira-kira 500 meter untuk bisa sampai ke rumah. Nah sepanjang perjalanan itu saya sering melewati anak-anak sepantaran yang sedang bermain kelereng. Mereka selalu menyanyikan sebuah jingle yang akhirnya saya hafal, karena mereka selalu menyanyikannya setiap kali saya lewat.

Cina loleng makan babi setengah kaleng..

(berulang-ulang sampai saya menghilang dari pandangan mereka)

Rrrgghh, ada yang salah dengan saya? kenapa panggil saya Cina, toh saya juga sama-sama manusia, saya juga punya banyak teman dari suku lain, tapi saya tak pernah memanggil mereka “Hei Jawa” atau “Woi, Batak”

Itulah yang ada di dalam pikiran saya saat itu. Sekali lagi ini cuma flash back. Saya bisa senyum-senyum sendiri kalau mengingatnya. Pada saat itu saya memang sangat kesal sekali. Tapi sekarang tidak demikian, saya selalu bangga dipanggil Cina. Sebab kata teman-teman saya, saya itu Cina yang beda, haha…

Entah disengaja atau tidak, saya selalu menjadi Cina satu-satunya di tempat saya berorganisasi atau di tempat bekerja mencari sesuap nasi dan segenggam berlian :p (sebenernya engga juga sih, ada lah minimal satu atau maksimal dua orang teman Cina saya, hehehe..)

Teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan yang aneh-aneh, sesuka hati mereka. Misalnya Cina low profile (lucu juga ya, hehe…) ada juga yang memanggil saya Cina rha nduwe toko (Cina gak punya toko), Cina kok nggak pelit, Cina rebel atau Cina Cina di dinding, wkwkwkkw… Mereka juga bilang kalo style saya tidak seperti Cina-Cina pada umumnya (lagi: haha..)

Bagi saya yang terpenting adalah menjadi diri saya sendiri. Semuanya itu tidak saya buat-buat.

Saya tidak ‘buat-buat’ ketika ingin berteman, saya tidak ‘buat-buat’ ketika saya ingin berpenampilan, saya tidak ‘buat-buat’ ketika saya ingin berbagi dan saya juga tidak pernah membuat diri saya menjadi cicak (lhoo! maaf, OOT, out of topic, hehe..)

Semuanya adalah diri saya! Just me, my self and I.

Well, it just an epithet! Lepas dari itu semua, saya tahu bahwa teman-teman bisa menerima saya dengan ke-Cina-an saya. Saya percaya bahwa teman-teman menganggap saya unik.

*Buat kedua orang tua saya, terima kasih yaaa karena kalian Cina!

29
Apr
10

Seperti embun yang bergetar melawan keterasingan…

(Catatan dari Blog yang lalu)

Malam Lebaran…

“Mungkin kita lebih bahagia di asrama ya Cie, selalu ada hal untuk ditertawakan, selalu ada suster yang siap bawa kita ke Panti Rapih kalo sakit. Gampang kalo pinjem PR, bisa pinjem-pinjem baju dan sepatu. Kalo ULTAH pasti diucapin selamat, ada bapak yang jagain kalo ada orang gila, makan terjamin. Asrama kita dulu menyenangkan ya? Aku gak pernah nyesel loh tinggal di sana… “ (pesan singkat dari seorang teman)

Sejak sore tadi aku menemani seorang teman dekatku yang sedang sakit. Wajah pucat serta demam tingginya ternyata cukup membuatku khawatir. Seperti khawatir seorang ibu ketika anaknya sakit. Tanpa perasaan terpaksa, aku pun mulai merawatnya, mengusap-usap punggungnya dengan minyak kayu putih, mengompres dahinya dengan handuk kecil dan berharap panas di tubuhnya berangsur-angsur turun, lalu tak lupa kupastikan juga bahwa ada makanan yang masuk ke dalam perutnya, maklum orang sakit memang rewel untuk urusan makan.

Meski hubungan kami adalah penjenguk dan yang dijenguk, namun tidak serta merta kami harus menjaga ketenangan suasana layaknya di Rumah Sakit. Kami! Aku dan temanku rupanya tengah asyik dengan obrolan ringan, membahas apapun yang ingin kami bicarakan, entah penting atau tidak, yang penting senang, sesekali kami harus merasakan tekanan kencang di perut karena tawa yang tak habis-habisnya.

Dan sampai pada suatu titik, suara tawa itu berangsur-angsur hilang…

Aku diam. Temanku pun diam. Tiba-tiba kami diam bersamaan dengan tatapan yang menerawang jauh, dan menutup bibir kami yang tadinya terbuka lebar karena gelak tawa. Tak ada lagi hasrat untuk bersenda gurau, baik aku maupun temanku. Nggak nafsu lagi!

Tiba-tiba saja, aku merasa begitu kesepian. Seperti embun yang bergetar melawan keterasingan di luar sana. Seperti sepi yang dirasakan ayahku di hari tuanya. Seperti narapidana yang tak lagi punya mimpi karena palu telah diketuk dan vonis hukuman bui seumur hidup sudah diputuskan. Seperti perasaan seorang anak dalam rahim yang tak diharapkan kelahirannya. Dan aku tetap pada kesepianku…

Entah roh pengecut mana yang menghampiriku, hingga aku tak lagi berani berjalan sendirian seperti ketika aku kecil dulu. Bocah lima tahun itu tak pernah mengeluh, ketika ia harus menunggu di sekolahan sampai hari hampir gelap, karena sang ayah baru sempat menjemputnya setelah pulang kantor. Bocah lima tahun itu tak pernah menangis, ketika orang tua satu-satunya harus pergi ke Jakarta selama satu minggu dan ia dititipkan pada tetangga. Bocah lima tahun itu tak pernah mengangis, dan bocah lima tahun itu adalah, aku!

Sekarang di rumah sendiri, tidur sendiri, makan malam sendiri, dan nonton TV sendiri aku tak ingin, aku takut pada sepi. Sepi yang telah mengurungku dalam kandang selama puluhan tahun, sepi yang selalu merampas tawaku, sepi yang sudah menjadi bagian hidupku. Karenanya aku ingin, aku bisa sendiri lagi… tanpa perasaan rindu yang begitu menyiksaku jika dirinya tak datang, tanpa perasaan begitu cinta yang akhirnya membuatku menangis, tanpa kekhawatiran jika dirinya sakit dan aku tak bisa disampingnya, tanpa rasa cemburu jika cinta ini harus dibagi-bagi. Tanpanya…dan aku berpulang pada sepi itu.

Kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Kuhapus beningnya air yang semakin ke bawah membasahi pipiku. Kulihat temanku tengah terlelap dengan handuk kecil basah di keningnya, kubasahi lagi handuk itu-kuperas-dan kukompreskan lagi dikeningnya dan kutarikkan selimut tebal hingga sebatas dadanya. Hatiku berbisik “cepat sembuh ya”.

Lalu aku mengendap-endap menuju pintu keluar, sebisa mungkin kupastikan ia tetap terlelap agar ia tak tahu bahwa aku meninggalkannya. Agar ia tak merasa kesepian sepertiku. Pintu kamarnya pun sudah tertutup. Ia pasti mengira, aku sedang menemaninya…

Motorku melaju pelan. Sendiri kulewati pekatnya malam, kuucapkan selamat malam pada embun-embun di sela rerumputan sawah, kunikmati setiap kilometernya roda motorku berputar di jalan melingkar panjang. Kugigit bibirku agar tak bergetar. Kunikmati dingin yang semakin memperlengkap sepiku. Sementara obat sepiku berlari menyelingkuhi mimpi…

Ponselku bergetar, kubaca sebuah pesan singkat, setelahnya aku tertidur pulas.

Jogja, 12 Oktober 2007

29
Apr
10

Pulang…

(Foto: google.com)

Selalu saja ada rasa enggan untuk pulang ke rumah, meski ada kesempatan. Bagi kebanyakan orang, pulang ke kampung halaman dan bertemu keluarga sudah pasti menjadi momentum yang ditunggu-tunggu. Lihat saja setiap hari raya tiba, Lebaran misalnya! selalu saja dipusingkan dengan arus mudik yang padat. Jalanan macetlah, penumpang berdesak-desakan mencari tiket lah.

Pulang adalah kegembiraan, semangat dan keharuan! Tapi tidak untukku. Sejak kecil aku tidak pernah mengenal arti sebuah “rumah”. Kata orang rumah itu tempat paling menyenangkan, tempat paling menenangkan ketika pikiran lagi ruwet, tempat orang-orang yang kita cintai berkumpul.

Maaf kalau aku tidak sependapat. Sudah sepuluh tahun terakhir ini aku pergi dari rumah, bukan minggat tentunya tapi menyelesaikan tugas sebagai seorang anak manusia. Dilahirkan, lalu besar sedikit disekolahkan sampai jadi sarjana, selanjutnya kerja, berumah tangga, dan seterusnya. Metamorfosis manusia!

Kembali lagi soal pulang.
Ingin sekali aku rindu pulang…
tapi pengalaman hidupku selama hampir seperempat abad inilah yang membuatku enggan pulang ke rumah. Rumah selalu membuatku lelah. Bahkan aku tak bisa menemukan sebuah sudut kecil saja di bagian rumahku yang aku sukai.

Pulang ke rumah rasanya seperti obat pahit yang wajib aku minum. Ah, aku tidak sakit! Malah jadi racun nantinya.
Jangan sekarang! beri waktu, sampai aku rindu untuk pulang ya…

2010

29
Apr
10

Menghargai air dari sebuah liputan

Desa Giricahyo, Gunung-Kidul

Dari mulut Gua Plawan, Gunung Kidul

Tercukupi kebutuhan akan air, bukan lagi menjadi mimpi bagi masyarakat di Desa Giricahyo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Hari-hari sulit air kini sudah berakhir sejak sumber air dari sungai bawah tanah Gua Plawan dengan kedalaman kira-kira 100 meter, berhasil diangkat. Pengangkatan air dari sungai bawah tanah tersebut merupakan tujuan dari program KKN Tematik teman-teman mahasiswa UGM. Mengingat besarnya kebutuhan dana untuk mendukung pengangkatan air tersebut, mereka menggaet pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk turut memberikan bantuan.

* * * *
Liputan kali ini membuatku paham betul bagaimana rasanya penduduk Gunung Kidul harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air. Aku harus jalan kaki dari permukiman warga menuju ke Gua Plawan, jaraknya yang lumayan jauh ditambah teriknya matahari di tengah hari bolong semakin membuatku bersyukur, setiap hari aku bisa memperoleh air dengan sangat mudah, tinggal putar kran atau menghidupkan pompa air, beres!

Tidak berhenti disitu saja, usai perjalanan liputan badan terasa gerah. Rasanya ingin segera mandi dan membersihkan badan. Jangankan mandi, untuk minum saja warga Gunung Kidul sangat kesusahan. Mahalnya air membuat kebutuhan sekunder diabaikan, yang penting cukup untuk minum dan memasak dulu.

Di akhir liputan, tak lupa aku berpesan untuk menggunakan air secara hemat dan se-efisien mungkin. Sederhana ya pesannya? semua orang juga tau kalau air itu penting, air itu kebutuhan vital, air itu sumber kehidupan. Sekali lagi ini pelajaran dari sebuah liputan (bagi diriku sendiri dan syukur-syukur juga untuk yang ikut membaca tulisan ini) hehe…

14
Apr
10

Bak Majas Repetisi…

Suatu sore menjelang malam…
Perasaan-perasaan itu muncul lagi, terulang lagi, berulang kali, bak majas repetisi…
Siapa yang bisa mencintai tanpa memiliki?! siapa!!? angkat tanganmu! Aku yakin, tak ada!
Bukan ingin mencari pembenaran atas perasaanku, tapi memang demikianlah kenyataannya. Perih! Sungguh, aku tak bohong. Kau pernah terluka, lalu luka itu ditetesi air garam, perih bukan? namun sepertinya perihku lebih dari itu. Perih yang tak pernah bisa kudefinisikan, perih yang tak terkatakan. Sebab sudah beratus windu kulewati, namun luka ini tak kunjung mengering.
Pernah aku meng-amin-i, kata-kata bahwa cinta tak harus memiliki…
Namun aku tak kuasa, menahan cemburu yang datang, membohongi diri dengan berkata “aku bahagia jika melihatmu bahagia bersama orang lain”. Kenyataannya, aku terpuruk dengan linangan air mata yang tak pernah berhenti, yang selalu mengalir dalam setiap kesendirianku.
Aku mencintainya dan kenyataannya aku tak bisa melihatnya bersama hati yang lain, merajut mimpi.
Ia selalu bilang aku perempuan tangguh! Ia hanya ingin membuatku kuat, tapi ia tak pernah menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari kekuatanku.
Ah, aku tak paham dengan barisan kata-kata yang kurangkai sore ini
aku hanya ingin bercerita, bahwa semua ini bak majas repetisi…
yang selalu terulang lagi…
berulangkali..
Aku hanya ingin mengulangnya, bahwa aku sangat mencintainya.
Aku merasa sesak, seperti di ruang pengap. Dan baru kusadari dirimu adalah udara…
Jogja, 14 April 2010



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.